Langsung ke konten utama

Lepas UAS: Paranormal Activity !

Ok. Mari kita mulai saja untuk berbicara. Jujur saya bingung kalau disuruh bikin pendahuluan atau prakata atau semacamnya, well, kalo saya buat Preface bawaannya curhat mulu. Jadi, biarlah saya begini apa adanya. *Enough! cukup berLEBIHnya*

Saya juga bingung sebenernya mau nulis apa, review film apa pengalaman saya ketika menonton film? Maybe both? Ya, mungkin dua-duanya aja kaliya. Ok, film yang saya tonton Selasa (2/2/10) kemarin adalah Paranormal Activity (Basi ya? maaf, berhubung saya tidak update jadwal tayang bioskop ataupun layar tancep, saya lebih memilih beli dipidi aja. :D).

Ditemani kedua temen yang notabene anak kost-an, kami menontonlah itu film di kamar. So far so good sih di awal. Bayangkan, ekspresi kami masih bisa bercanda, makan snack, belum menutup mata pake tangan dan duduk masih berjauh-jauhan. Fokus ke alur cerita. Cerita yang dimulai dari keangkeran rumah Katie dan Micah, cowoknya (lebih kayak suami sepertinya), menarik mereka untuk merekam segala kegiatan (normal/abnormal) di dalam rumahnya itu. Entah hantu ataukah iblis yang mengikuti Katie, perlahan menampakkan keberadaannya walaupun tak menampakkan wujudnya. Setelah pakar hantu datang ke rumah Katie, hal abnormal itu disimpulkan dilakukan oleh iblis. Malam berganti malam semakin menunjukkan keeksistensian iblis tersebut. Lihat saja di gambar yang terekam kamea tersebut, pintu bergeser; membuka dan menutup sendiri; lampu yang tiba-tiba menyala, jejak kaki tanpa wujud, suara langkah kaki yang menaiki tangga, lampu gantung yang bergoyang cepat, papan Ouljah yang bermain sendiri, hingga Katie diseret ketika tidur benar-benar membuat kami (Well, lebih tepatnya saya) menutup mata. ^^v.

Lalu bagaimana dengan endingnya?
Lebih baik Anda menontonnya dan memastikan tidak berhenti di tengah alur cerita serta pastikan tidur Anda akan nyenyak setelah menyaksikan film ini. Recommended!!

Psstt.. Jangan nonton sendirian.. ^.~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Changed

“Ramaaaaaaaaaa! Banguuuuuuuunnn!” Suara itu menggelegar di gendang telingaku. Mengalahkan bunyi alarmku serta menghentikan putaran film dalam mimpiku. Tapi itu bukan suara yang terbiasa aku dengar. Bukan suara mama. Lalu siapa? Hantu puncak datang bulankah? Hantu menopouse? Hantu puncak telat datang bulankah? Dengan enggan aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku. Aku tercekat kaget. Ternyata lebih menyeramkan dari hantu-hantu puncak tersebut. Kak Lisa berdiri dengan memelototiku dan menggenggam sapu lidi di tangan kirinya yang siap mengayun ke arahku. Oh baiklah, aku menyerah akan kegeramannya itu. “Iya, iya. Galak amat. Emak gue aja nggak gini-gini banget.” keluhku pada Kak Lisa. Aku masih heran kenapa dia bisa ada di sini. Biasanya kakakku yang telah menikah enam tahun yang lalu ini jarang sekali berkunjung menemuiku dan mama. Pasti ada yang tidak beres, batinku seperti dialog di sinetron-sinetron. “Ngapain ke sini, Kak?” “Ngapain kek, terserah aku dong. Buruan bangun, adikku s...

Simpulan Sebuah Goresan

Aku memang bukan bulan yang bisa menerangi dalam gelap. Bukan juga lilin yang bersinar saat gelap datang. Aku bukan pelangi indah yang memberi warna Juga bukan rangkaian kembang api yang memberi senyuman. Aku hanya sebuah coretan Yang penuh dengan goresan luka Yang bisa menggores cahaya bulan dan pelangi juga menggelapkan keterangan.

Sebuah Jalan

Aku tak bisa berbicara pada angin Aku hanya bisa berbicara dalam diam Aku tak bisa berdiri dalam gelap Aku hanya bisa berdiri lalu jatuh kemudian Aku tak bisa tersenyum dalam duka Dan tak bisa berduka dalam suka Tapi Tuhan menatapku Menjagaku dalam setiap langkah Menemaniku dalam setiap sepi Menuntun jalan pikiranku Menyayangiku dalam segala nikmatnya yang tak ternilai.