Disclaimer : Sinda Diadema (2009) Tangannya menekan tombol Play di iPod Apple-nya. Tak lama kepalanya bergerak mengikuti irama musik dengan santai. Senyuman mengembang dari bibirnya. Ia meneguk susu dan sepotong roti yang telah tersedia di meja makan. Kini mulutnya sibuk mengunyah potongan roti yang masuk ke dalamnya. Ia membiarkan enzim amilase dan ptialin bekerja dengan tenang. Setenang lantunan musik di iPodnya. “So, let’s get the beat!!! Cintaku adalah musik, musik adalah hidupku!!!So, Let’s get the beat, jiwaku adalah musik, musik warnai hidupku. Senada dengan detak jantungku, senada dengan denyut nadiku. So, Let’s get the beat!!!!“ Teriaknya setelah sepotong roti itu berhasil masuk ke dalam perutnya. “ Gedebak-gedebuk. Berisik!!!! Masih pagi lo dah teriak-teriak ga jelas!!!” seru Azriel seraya menepak pundak saudara kembarnya, Irza. “Ya udah sih, mulut gua dah kebelet pengen nyanyi gitu. Mau diapain lagi???” ujarnya tanpa melihat wajah sang saudara kembarnya itu. “Lo tuh kerjany...