“Ramaaaaaaaaaa! Banguuuuuuuunnn!” Suara itu menggelegar di gendang telingaku. Mengalahkan bunyi alarmku serta menghentikan putaran film dalam mimpiku. Tapi itu bukan suara yang terbiasa aku dengar. Bukan suara mama. Lalu siapa? Hantu puncak datang bulankah? Hantu menopouse? Hantu puncak telat datang bulankah? Dengan enggan aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku. Aku tercekat kaget. Ternyata lebih menyeramkan dari hantu-hantu puncak tersebut. Kak Lisa berdiri dengan memelototiku dan menggenggam sapu lidi di tangan kirinya yang siap mengayun ke arahku. Oh baiklah, aku menyerah akan kegeramannya itu. “Iya, iya. Galak amat. Emak gue aja nggak gini-gini banget.” keluhku pada Kak Lisa. Aku masih heran kenapa dia bisa ada di sini. Biasanya kakakku yang telah menikah enam tahun yang lalu ini jarang sekali berkunjung menemuiku dan mama. Pasti ada yang tidak beres, batinku seperti dialog di sinetron-sinetron. “Ngapain ke sini, Kak?” “Ngapain kek, terserah aku dong. Buruan bangun, adikku s...