Disclaimer : Sinda Diadema (2009)
Tangannya menekan tombol Play di iPod Apple-nya. Tak lama kepalanya bergerak mengikuti irama musik dengan santai. Senyuman mengembang dari bibirnya. Ia meneguk susu dan sepotong roti yang telah tersedia di meja makan. Kini mulutnya sibuk mengunyah potongan roti yang masuk ke dalamnya. Ia membiarkan enzim amilase dan ptialin bekerja dengan tenang. Setenang lantunan musik di iPodnya.
“So, let’s get the beat!!! Cintaku adalah musik, musik adalah hidupku!!!So, Let’s get the beat, jiwaku adalah musik, musik warnai hidupku. Senada dengan detak jantungku, senada dengan denyut nadiku. So, Let’s get the beat!!!!“ Teriaknya setelah sepotong roti itu berhasil masuk ke dalam perutnya.
“ Gedebak-gedebuk. Berisik!!!! Masih pagi lo dah teriak-teriak ga jelas!!!” seru Azriel seraya menepak pundak saudara kembarnya, Irza.
“Ya udah sih, mulut gua dah kebelet pengen nyanyi gitu. Mau diapain lagi???” ujarnya tanpa melihat wajah sang saudara kembarnya itu.
“Lo tuh kerjanya cuma nyanyi ma nge-band mulu. Kapan mau serius belajar sih?? Dah kelas 3 SMA juga, masih aja kayak gitu.” Ujarnya sambil mengoleskan selai vanila di rotinya.
“Apa? Belajar?? Lo tuh yang kerjaannya belajar mulu. Mang ga ada kerjaan laen selain belajar?? Maen kek sekali-kali...” balasnya santai.
“Bukan gitu, Za. Kita kan sama-sama dah gede juga, apa salahnya sih ngebahagiain nyokap-bokap yang ngarep kita bisa sukses nantinya.” Tambal Azriel
“Kalo band gue sukses juga ntar kan bikin bokap-nyokap bangga kali. Nyantai aja.” Balasnya dengan jengkel. Raut mukanya berubah dingin. Ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini berjalan.
“Kalo lo pengen nyeramahin gue lagi kayak biasanya, mendingan lo simpen ceramah lo itu. Gue udah kebal. Bosen gue denger lo ngoceh terus!!!” tambah Irza.
“Gue bukan pengen nyeramahin lo. Tapi gue gak mau lo tuh terus-terusan ngejalanin hal yang gak berguna. Seharus...”
“Oooo... Jadi menurut lo semua yang gue kerjain tuh gak berguna??? Nge-band itu penting bagi gue!!!” potong Irza. “Asal lo tahu ya, nge-band bagi gue sama aja kayak lo yang freak ma yang namanya buku. Gue tahu gue gak pinter, tapi jangan pernah lo manfaatin kebegoan gue untuk kebahagiaan lo sendiri!!!!” kesalnya seraya meraih ranselnya di lantai.
“Maksud lo apa?” tanya Azriel.
“Whatever!!!!” jawabnya dan melangkah pergi meninggalkan Azriel di meja makan. Hening. Azriel menelan kekesalannya seperti ia menelan potongan roti itu dengan kasar. Tak sadar, terdengar suara decakan dari arah dapur.
“Aduh-aduh... tiap hari kok berantem terus. Ndak akur-akur. Lha wong tinggal cuma berdua aja kok ribut melulu. Pusing aku..” keluh Bu Aas dengan logat Jawanya yang khas.
Perang dingin dimulai kembali. Insiden di meja makan pagi tadi menyurutkan semangat belajar Azriel hari ini. Tak ada satu pun materi yang dapat ia tangkap. Pikirannya hanya tertuju pada saudara kembarnya yang selalu membuatnya kesal. Hingga pelajaran usai pun, Azriel hanya terdiam. Sesampainya di rumah, ia merebahkan tubuhnya di sofa hitam yang terletak di kamarnya. Ia mengambil remote TV dan menekan tombol ON. Ia berpindah dari satu channel ke channel lainnya. Hingga ia berhenti pada salah satu channel yang menyiarkan acara yang mengedepankan kedekatan antara saudara kembar itu.
Ia sedih menyaksikan acara itu. Betapa bahagianya mereka, bisa hidup rukun dengan saudara kembarnya. Tapi dia, sarapan pun harus adu mulut. Setiap hari, pasti ada saja hal yang membuat keduanya saling menjatuhkan. Ia jadi teringat bagaimana ia menghabiskan hari-harinya dengan berkelahi hebat, adu mulut yang begitu melelahkan.
“Tok... tok... tok... “
Ketukan di pintu itu membuyarkan lamunannya. Ia membukakan pintu kamarnya itu. Wanita setengah baya yang dengan sabarnya melayani kebutuhannya, Bu Aas.
“Ada apa, Bu?”
“Anu.. Mas Azriel. Tadi mas Irza telepon, katanya dia gak pulang, ada latihan band, gitu. Soalnya dia besok mau manggung di daerah Kemang, ngiringin Rini Idol, katanya. ”
“Jam berapa dia nelpon?”
“Sekitar jam 10 pagi tadilah Mas...”
“Oooo... Mama telepon gak?”
“Ndak Mas. Bukannya hari Minggu ini pulangnya?”
“Iya. Ya udah. Makasih Bu.”
Azriel kembali menghempaskan badannya, tapi kini di tempat tidurnya. Pantesan aja hari ini dia gak masuk, latihan band lagi...Tu orang apa gak pernah nyadar? Batin Azriel dalam hati.
“Pulang juga lo ke rumah, gue kira lo bakalan anteng nge-band. Kenapa??? Takut nyokap-bokap dateng?”
“Zriel, gue baru dateng. Jangan ngajakin gue ribut deh!!!”
“Za, gue gak ngajak lo ribut. Tapi emang bener kan, lo balik cuma karena mama sama ayah mau pulang, kan? Kemaren kemana ja lo? Ngiringin Rini Idol? Or Aries, Ihsan, Mike, or Delon?”
“I can’t tell you.This my world, mine. So, never mind and forget it!!! Urusan lo tuh Cuma BELAJAR. That’s enough!!!! What else???! Have you ever heard my confession? If not yet, my Confession is I don’t care with your world.”
“Fine. If you want to do, it’s up to you. However, we’re family. Setiap gue ngomong, lo gak pernah mau dengerin. Gue capek terus-terusan ribut ma lo. Lo gak pernah mau ngalah!!!”
“Zriel, gue juga capek. Capek dengerin celotehan lo yang selalu buat gue jadi down. Dalem tahu gak. Nusuk di hati. Gue tahu Zriel, lo tuh sempurna. Lo pinter, baik, cool, famous, down to earth, friendly, dan banyak cewek yang ngejar-ngejar lo. That’s very kind of you!!! Sedangkan gue? Apa yang bisa gue banggain?? Otak gak punya, tampang apalagi, famous? Mungkin iya di mata guru-guru yang suka ngejar-ngejar gue kalo cabut atau nilai gue ancur lebur. Apa coba yang bisa dibanggain dari gue? Gak ada, Zriel. Malu-maluin iya kali. Jujur, selama ini gue iri banget ma lo, karena lo bisa ngedapetin perhatian lebih dari mama sama ayah, lebih disayanglah daripada gue.”
“Nobody’s perfect!!! Gue gak sesempurna pa yang lo pikir!! Jadi gara-gara itu selama ini lo jutek dan gak friendly sama gue. Seharusnya gue kali yang iri ma lo. You’re so multi talented! You can get what you want!!! Tapi gue? Gue terbelenggu dalam dunia gue sendiri, ma buku, komputer, soal-soal exact, many more things and you now that, right? Gue gak sebebas lo yang bisa bersosialisasi dengan kalangan apapun, bisa survive dimana pun, dan lo bisa ekspresikan apa yang lo mau. If I were you.. fortunely, I can’t do that. Gue terkekang dengan semua harapan-harapan mama dan ayah dan gue harus jalanin itu.”
Keduanya pun terdiam. Terbius dengan pengakuan yang selama ini membuat dunia mereka sangat kontras. Selama ini keduanya terbelenggu dalam rangkulan iri hati yang tinggi.
“Mas Azriel, Mas Irza. Kok berantem terus sih??? Kalian tuh kan saudara kenapa gak bisa akur toh? Orang tua masih ada aja gak bisa akur, gimana nanti kalau sudah ndak ada? Kalian kan bakal hidup berdua, harus saling mendukung toh. Saling melengkapi gitu. Harus ada kalau yang lain sedang membutuhkan bantuan. Gimana kalau dulu kalian ikut perang melawan penjajah? Kalian berdua aja ndak kompak, ndak bersatu gitu, apalagi kalau orang yang kayak kalian itu banyak? Indonesia ndak akan merdeka kayak sekarang. Wong ndak ada rasa persatuan dan kesatuannya istilahnya. Lha sekarang ini, Indonesia bisa merdeka kan juga karena dulu para pejuang itu bersatu, toh? Mereka itu kompak, rukun lho walaupun ndak bersaudara kayak kalian. Kalau kalian rukun kan ndak akan bikin mama dan ayahmu pusing kan? Mereka pasti bangga sama Mas Irza juga Mas Azriel. Mereka juga pasti sayang sama Mas Irza dan Mas Azriel, jadi ndak usah iri gitu dong. Rumah ini juga kan jadi aman, tentram, dan damai....” jelas Bu Aas memecah keheningan hati dan kesadaran mereka.
“Bu Aas... . Ada-ada aja ni...” ucap Irza.
“Kata-katanya Maknyoes!!!! Ngutip dimana tuh??” seru Azriel. Ia mengulurkan tangannya.
“What are you doing?” tanya Irza.
“Just trying to appologize... I’m so sorry, my bro” jawab Azriel. Irza pun menyambar uluran tangan Azriel dengan senyuman lepas dan memeluk erat saudara kembarnya itu.
“Yea, Forgive me... We’re always together, Bro!!!!”
Tangannya menekan tombol Play di iPod Apple-nya. Tak lama kepalanya bergerak mengikuti irama musik dengan santai. Senyuman mengembang dari bibirnya. Ia meneguk susu dan sepotong roti yang telah tersedia di meja makan. Kini mulutnya sibuk mengunyah potongan roti yang masuk ke dalamnya. Ia membiarkan enzim amilase dan ptialin bekerja dengan tenang. Setenang lantunan musik di iPodnya.
“So, let’s get the beat!!! Cintaku adalah musik, musik adalah hidupku!!!So, Let’s get the beat, jiwaku adalah musik, musik warnai hidupku. Senada dengan detak jantungku, senada dengan denyut nadiku. So, Let’s get the beat!!!!“ Teriaknya setelah sepotong roti itu berhasil masuk ke dalam perutnya.
“ Gedebak-gedebuk. Berisik!!!! Masih pagi lo dah teriak-teriak ga jelas!!!” seru Azriel seraya menepak pundak saudara kembarnya, Irza.
“Ya udah sih, mulut gua dah kebelet pengen nyanyi gitu. Mau diapain lagi???” ujarnya tanpa melihat wajah sang saudara kembarnya itu.
“Lo tuh kerjanya cuma nyanyi ma nge-band mulu. Kapan mau serius belajar sih?? Dah kelas 3 SMA juga, masih aja kayak gitu.” Ujarnya sambil mengoleskan selai vanila di rotinya.
“Apa? Belajar?? Lo tuh yang kerjaannya belajar mulu. Mang ga ada kerjaan laen selain belajar?? Maen kek sekali-kali...” balasnya santai.
“Bukan gitu, Za. Kita kan sama-sama dah gede juga, apa salahnya sih ngebahagiain nyokap-bokap yang ngarep kita bisa sukses nantinya.” Tambal Azriel
“Kalo band gue sukses juga ntar kan bikin bokap-nyokap bangga kali. Nyantai aja.” Balasnya dengan jengkel. Raut mukanya berubah dingin. Ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini berjalan.
“Kalo lo pengen nyeramahin gue lagi kayak biasanya, mendingan lo simpen ceramah lo itu. Gue udah kebal. Bosen gue denger lo ngoceh terus!!!” tambah Irza.
“Gue bukan pengen nyeramahin lo. Tapi gue gak mau lo tuh terus-terusan ngejalanin hal yang gak berguna. Seharus...”
“Oooo... Jadi menurut lo semua yang gue kerjain tuh gak berguna??? Nge-band itu penting bagi gue!!!” potong Irza. “Asal lo tahu ya, nge-band bagi gue sama aja kayak lo yang freak ma yang namanya buku. Gue tahu gue gak pinter, tapi jangan pernah lo manfaatin kebegoan gue untuk kebahagiaan lo sendiri!!!!” kesalnya seraya meraih ranselnya di lantai.
“Maksud lo apa?” tanya Azriel.
“Whatever!!!!” jawabnya dan melangkah pergi meninggalkan Azriel di meja makan. Hening. Azriel menelan kekesalannya seperti ia menelan potongan roti itu dengan kasar. Tak sadar, terdengar suara decakan dari arah dapur.
“Aduh-aduh... tiap hari kok berantem terus. Ndak akur-akur. Lha wong tinggal cuma berdua aja kok ribut melulu. Pusing aku..” keluh Bu Aas dengan logat Jawanya yang khas.
***
Perang dingin dimulai kembali. Insiden di meja makan pagi tadi menyurutkan semangat belajar Azriel hari ini. Tak ada satu pun materi yang dapat ia tangkap. Pikirannya hanya tertuju pada saudara kembarnya yang selalu membuatnya kesal. Hingga pelajaran usai pun, Azriel hanya terdiam. Sesampainya di rumah, ia merebahkan tubuhnya di sofa hitam yang terletak di kamarnya. Ia mengambil remote TV dan menekan tombol ON. Ia berpindah dari satu channel ke channel lainnya. Hingga ia berhenti pada salah satu channel yang menyiarkan acara yang mengedepankan kedekatan antara saudara kembar itu.
Ia sedih menyaksikan acara itu. Betapa bahagianya mereka, bisa hidup rukun dengan saudara kembarnya. Tapi dia, sarapan pun harus adu mulut. Setiap hari, pasti ada saja hal yang membuat keduanya saling menjatuhkan. Ia jadi teringat bagaimana ia menghabiskan hari-harinya dengan berkelahi hebat, adu mulut yang begitu melelahkan.
“Tok... tok... tok... “
Ketukan di pintu itu membuyarkan lamunannya. Ia membukakan pintu kamarnya itu. Wanita setengah baya yang dengan sabarnya melayani kebutuhannya, Bu Aas.
“Ada apa, Bu?”
“Anu.. Mas Azriel. Tadi mas Irza telepon, katanya dia gak pulang, ada latihan band, gitu. Soalnya dia besok mau manggung di daerah Kemang, ngiringin Rini Idol, katanya. ”
“Jam berapa dia nelpon?”
“Sekitar jam 10 pagi tadilah Mas...”
“Oooo... Mama telepon gak?”
“Ndak Mas. Bukannya hari Minggu ini pulangnya?”
“Iya. Ya udah. Makasih Bu.”
Azriel kembali menghempaskan badannya, tapi kini di tempat tidurnya. Pantesan aja hari ini dia gak masuk, latihan band lagi...Tu orang apa gak pernah nyadar? Batin Azriel dalam hati.
***
“Pulang juga lo ke rumah, gue kira lo bakalan anteng nge-band. Kenapa??? Takut nyokap-bokap dateng?”
“Zriel, gue baru dateng. Jangan ngajakin gue ribut deh!!!”
“Za, gue gak ngajak lo ribut. Tapi emang bener kan, lo balik cuma karena mama sama ayah mau pulang, kan? Kemaren kemana ja lo? Ngiringin Rini Idol? Or Aries, Ihsan, Mike, or Delon?”
“I can’t tell you.This my world, mine. So, never mind and forget it!!! Urusan lo tuh Cuma BELAJAR. That’s enough!!!! What else???! Have you ever heard my confession? If not yet, my Confession is I don’t care with your world.”
“Fine. If you want to do, it’s up to you. However, we’re family. Setiap gue ngomong, lo gak pernah mau dengerin. Gue capek terus-terusan ribut ma lo. Lo gak pernah mau ngalah!!!”
“Zriel, gue juga capek. Capek dengerin celotehan lo yang selalu buat gue jadi down. Dalem tahu gak. Nusuk di hati. Gue tahu Zriel, lo tuh sempurna. Lo pinter, baik, cool, famous, down to earth, friendly, dan banyak cewek yang ngejar-ngejar lo. That’s very kind of you!!! Sedangkan gue? Apa yang bisa gue banggain?? Otak gak punya, tampang apalagi, famous? Mungkin iya di mata guru-guru yang suka ngejar-ngejar gue kalo cabut atau nilai gue ancur lebur. Apa coba yang bisa dibanggain dari gue? Gak ada, Zriel. Malu-maluin iya kali. Jujur, selama ini gue iri banget ma lo, karena lo bisa ngedapetin perhatian lebih dari mama sama ayah, lebih disayanglah daripada gue.”
“Nobody’s perfect!!! Gue gak sesempurna pa yang lo pikir!! Jadi gara-gara itu selama ini lo jutek dan gak friendly sama gue. Seharusnya gue kali yang iri ma lo. You’re so multi talented! You can get what you want!!! Tapi gue? Gue terbelenggu dalam dunia gue sendiri, ma buku, komputer, soal-soal exact, many more things and you now that, right? Gue gak sebebas lo yang bisa bersosialisasi dengan kalangan apapun, bisa survive dimana pun, dan lo bisa ekspresikan apa yang lo mau. If I were you.. fortunely, I can’t do that. Gue terkekang dengan semua harapan-harapan mama dan ayah dan gue harus jalanin itu.”
Keduanya pun terdiam. Terbius dengan pengakuan yang selama ini membuat dunia mereka sangat kontras. Selama ini keduanya terbelenggu dalam rangkulan iri hati yang tinggi.
“Mas Azriel, Mas Irza. Kok berantem terus sih??? Kalian tuh kan saudara kenapa gak bisa akur toh? Orang tua masih ada aja gak bisa akur, gimana nanti kalau sudah ndak ada? Kalian kan bakal hidup berdua, harus saling mendukung toh. Saling melengkapi gitu. Harus ada kalau yang lain sedang membutuhkan bantuan. Gimana kalau dulu kalian ikut perang melawan penjajah? Kalian berdua aja ndak kompak, ndak bersatu gitu, apalagi kalau orang yang kayak kalian itu banyak? Indonesia ndak akan merdeka kayak sekarang. Wong ndak ada rasa persatuan dan kesatuannya istilahnya. Lha sekarang ini, Indonesia bisa merdeka kan juga karena dulu para pejuang itu bersatu, toh? Mereka itu kompak, rukun lho walaupun ndak bersaudara kayak kalian. Kalau kalian rukun kan ndak akan bikin mama dan ayahmu pusing kan? Mereka pasti bangga sama Mas Irza juga Mas Azriel. Mereka juga pasti sayang sama Mas Irza dan Mas Azriel, jadi ndak usah iri gitu dong. Rumah ini juga kan jadi aman, tentram, dan damai....” jelas Bu Aas memecah keheningan hati dan kesadaran mereka.
“Bu Aas... . Ada-ada aja ni...” ucap Irza.
“Kata-katanya Maknyoes!!!! Ngutip dimana tuh??” seru Azriel. Ia mengulurkan tangannya.
“What are you doing?” tanya Irza.
“Just trying to appologize... I’m so sorry, my bro” jawab Azriel. Irza pun menyambar uluran tangan Azriel dengan senyuman lepas dan memeluk erat saudara kembarnya itu.
“Yea, Forgive me... We’re always together, Bro!!!!”
***
Komentar
Posting Komentar