Mungkin
ini hanya goresan tangan saya, entah curahan hati atau ulasan mimpi.
Saya hanya ingin berbagi, semoga siapa pun yang membaca bisa sedikit
tersenyum.
Sebelumnya, sub judul di atas mungkin sangat sering kita dengar. Inspirasi dan mimpi. Saya yakin setiap orang pasti memiliki keduanya. Pernahkah Anda berpikir lebih jauh tentang keduanya? Kalau saya sudah pasti, iya. Dan melalui coretan ini, saya akan menuangkan hal-hal yang menginspirasi saya dan tentang mimpi-mimpi (kabur) saya.
Dunia Tulis Menulis dan Perspektif
Mengapa dunia tulis menulis? Karena dari sanalah semua itu dimulai. Dari menulis, aku seperti memiliki ruang sendiri untuk diisi dan dari sanalah aku mengenal orang-orang yang sungguh mengagumkan. Ini satu hal yang sungguh merubah pandanganku.
Saat itu aku masih duduk dibangku SMA. Psikotes menyatakanku harus masuk kelas bahasa. Sialnya, kelas bahasa belum dibuka saat itu dan terdamparlah aku di kelas (yang-kata-orang) unggulan. Ya, di kelas itu semua berebut posisi paling atas dan merebut hati para guru. Sungguh seperti berlomba-lomba masuk chart MTV Ampuh. Aku? Aku benar-benar tidak berminat untuk posisi itu. Aku lebih sering masuk di posisi bubbling undervideo saja. Aku bukan orang pintar. Tapi aku juga tidak mau tertindas begitu saja. Aku juga ingin bisa dikenal oleh para guru, setidaknya satu orang guru saja mungkin cukup.
Keadaan yang sering masuk di bubbling undervideo itu membuat orang tuaku khawatir. Di rapor pun nilai eksak lebih rendah dari pada bahasa. Orang tua seringkali bilang hal itu karena aku terlalu sibuk berkutat di mading sekolah dan MPK. Tapi bukan itu alasannya, aku sudah pernah bilang alasannya, aku mungkin tidak cocok di IPA. Tapi wali kelasku tidak mendukung pernyataanku itu karena di beberapa ilmu eksak nilaiku lumayan baik. Akhirnya, Musim pembuatan karya tulis di sekolah pun dimulai. Aku berusaha membuktikan perkataan itu dengan membuat karya tulis tentang sastra yang mengubah perspektif banyak orang tentang aku.
Karya Tulis dan Ayat-ayat Cinta
“Apa alasan kamu mengambil judul ini?” tanya pembimbing karya tulisku sebelum menyetujui judul aku pilih.
“Menghidupkan Cerita dalam Cerita Pendek.” Sebenarnya apa maknanya? Aku terdiam sejenak. Hal yang terlintas dibenakku hanya mengeluarkan outline karya tulis dan melihat lagi bagian-bagiannya. Aku tidak berusaha menjawab, sang pembimbing pun membiarkanku larut dalam pikiranku sendiri hingga akhirnya dia membubuhkan tanda tangannya di kartu bimbinganku. Aku tidak tahu apa beliau mengerti maksudku atau sudah menemukan jawabannya, yang jelas dia memintaku melanjutkan ke bab berikutnya.
Karya tulisku rampung dan sidangku pun dipercepat oleh tim penguji. Aku benar-benar-panik.
Pertanyaan terbesar pun terlontar dari penguji yang bertubuh mungil. “Kenapa kamu membandingkan dengan novel ini? Ini kan cerita pendek.” Sebenarnya aku juga tidak kompeten dalam hal menulis. Aku hanya senang membaca dan menulis. Tapi aku harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kutulis bukan?
“Saya mengambil beberapa contoh dari itu, Bu. Contoh pendeskripsian. Saya suka dengan pendeskripsian ala Kang Abik itu mengenai tokohnya terutama.“ belaku mengenai novel yang kubeli akhir tahun 2006 itu.
Pertanyaan lain pun bergulir. Aku diminta mendeskripsikan dan membandingkan secara langsung tokoh utama di novel itu dengan bahasaku sendiri, tentunya. Ya ampun, sesosok Fedi Nuril dan Fahri pun bergentayangan di pikiranku. Aku hampir tidak bisa mengenali perbedaannya. Sosok-sosok itu masih kabur hingga guru pengujiku mulai mendeskripsikan sesosok Fedi Nuril dengan mata berbinar-binar. Ya Tuhan, masa aku kalah sama ibu-ibu ini? Tak jarang banyak pula yang tahu Fedi Nuril itu ya Fahri. Seperti kedua guru pengujiku ini. Aku harus membacakan biografi singkat tentang sang Fedi Nuril, sang gitaris Garasi itu terlebih dahulu sebelum mendeskripsikannya dengan terbatas.
Fedi Nuril, sang gitaris Garasi itu benar-benar berhasil menjelma menjadi Fahri.
Tidak perlu banyak bukti. Aku yakin siapa pun yang menonton film ini akan sependapat. Imej itu melekat padanya. Siapa yang tak terterpa kharismanya? Siapa yang tak kagum atas talentanya di bidang akting dan musik? Mendengar perkataanku itu, kedua guruku menyarankan agar kami menonton Ayat-ayat Cinta bersama-sama dan itu terkabul. Kelas pun bagai terterpa serangan badai Fahri. Ya Tuhan, maafkan aku.
Aku benar-benar berutang terima kasih kepada seorang Fedi Nuril. Aku sangat beruntung bisa lulus sidang dengan cara yang tidak terlalu sulit. Aku pun bersyukur karya tulisku itu bisa berguna bagi adik kelasku karena diabadikan. Tapi aku tidak bisa bertanggung jawab atas badai Fahri di kelasku itu.
Jejaring Sosial dan Kakak Bimbingan
Siapa yang sangka jejaring sosial mengantarkanku lebih dekat dengan orang-orang yang kukagumi? Melalui blog, aku banyak tahu tentang Garasi dan memiliki teman-teman baru yang luar biasa menyenangkan. Lewat akun multiply-ku bertemu dengan teman-teman pecinta Garasi lainnya dan aku pun dapat info terupdate dari akun resmi milik Garasi. Menyenangkan bukan?
Awalnya, aku sangat excited mendengar bahwa ada seseorang yang akan menulis tentang Garasi. Ketertarikan itu mempertemukanku dengan seorang pembimbing yang bernama, Pipin Kurniawaty.
Kak Pinot, begitu aku memanggilnya. Aku mengenalnya melalui akun Twitterku. Awalnya aku pikir mana mau ia membalas tweetku. Aku siapa? Kenal pun tidak. Aku tak ingin SKSD atau sebagainya. Tapi, ketika aku mendapat balasan darinya, betapa ramahnya kakak yang satu ini terlebih hingga ia bersedia menjadi pembimbingku.
Kumulai dengan membaca tulisan-tulisan di blog sederhananya. Lalu apa yang terjadi? Tentu saja aku terjebak di dalamnya. Membuatku ingin menelusuri setiap bagiannya. Setiap kisah yang diuntainya luar biasa jujur. Aku tahu kejujuran adalah unsur yang sering diabaikan dalam menulis, tapi aku menemukan kejujuran itu di dalam tubuh tulisannya. Itulah mengapa aku ingin sekali mendapat bimbingannya. Mungkin aku akan belajar dari tulisannya saja, tetapi betapa baiknya ia kala bersedia menjadikan aku sebagai adik bimbingannya..
Aku tak terbiasa menulis non-fiksi, mungkin curhat colongan di blog tidak termasuk hitungan. Aku jarang sekali menuliskan opini atau cerita realita sebelumnya. Tapi ketika aku mendapati tulisan-tulisannya, aku tergerak untuk mencobanya. Bukan melebih-lebihkan, tapi memang begitu keadaanya. Aku juga suka membaca karya-karyanya yang lain. Dia pengarang hebat!
Dia hebat. Kenapa? Karena suatu ketika aku-yang-pemalas ini lagi-lagi dihadapkan kepada tugas mata kuliah yang tak begitu aku sukai. Well, harus kuakui nilaiku hampir jelek di mata kuliah ini. Dan seseorang yang aku pikir bisa membantuku adalah Kak Pinot. Tugasku saat itu adalah mewawancarai narasumber mengenai keorganisasian dan pekerjaan. Tentu saja dengan kemurahan hatinya ia mau membantuku.
Apa yang aku dapatkan atas hasil wawancara dengannya itu? Aku mendapatkan betapa bertanggung jawabnya ia dengan pekerjaannya, betapa pedulinya ia dengan lingkungan sekitarnya. Di saat orang lain mungkin sudah melupakan kisah lumpur Lapindo di negeri ini, tapi ia tetap peduli dan tergerak untuk membantu anak-anak yang terkena imbas kapitalis pengusaha negeri ini. Kau tahu, Kak? Aku menyelipkan kisah itu ketika menulis surat untuk presiden.
Kembali ke tugas itu, aku beruntung memiliki narasumber hebat seperti ia. Aku mendapat nilai yang aku rasa mampu untuk menutupi nilai UTSku sebelumnya dan itu terbukti dengan meledaknya nilai IPku. Itu tak seberapa dengan nilai hidup yang aku dapatkan darinya. Suatu hari, aku mengingat percakapan kami mengenai menulis. Ia mengatakan bahwa ia bukan ingin menjadi penulis yang terkenal, tapi dia hanya ingin kelak memiliki kisah untuk diceritakan kepada anak-cucunya dan itu sangat mengharukanku. Betapa tulusnya dia.
Aku mungkin tak mengenalnya terlalu dekat, tapi aku mengaguminya. Bukan karena ia akrab dengan seorang Fedi Nuril dan anggota Garasi lainnya, tapi karena nilai-nilai yang ia berikan secara tersirat. Itu cukup membukakan mataku. Maka aku menyebutnya kakak bimbinganku.. Terima kasih telah menginspirasiku.
Dan lagi-lagi, aku mengucapkan terima kasih kepada Fedi Nuril karena telah membuatku mengenalnya..
Sebelumnya, sub judul di atas mungkin sangat sering kita dengar. Inspirasi dan mimpi. Saya yakin setiap orang pasti memiliki keduanya. Pernahkah Anda berpikir lebih jauh tentang keduanya? Kalau saya sudah pasti, iya. Dan melalui coretan ini, saya akan menuangkan hal-hal yang menginspirasi saya dan tentang mimpi-mimpi (kabur) saya.
Dunia Tulis Menulis dan Perspektif
Mengapa dunia tulis menulis? Karena dari sanalah semua itu dimulai. Dari menulis, aku seperti memiliki ruang sendiri untuk diisi dan dari sanalah aku mengenal orang-orang yang sungguh mengagumkan. Ini satu hal yang sungguh merubah pandanganku.
Saat itu aku masih duduk dibangku SMA. Psikotes menyatakanku harus masuk kelas bahasa. Sialnya, kelas bahasa belum dibuka saat itu dan terdamparlah aku di kelas (yang-kata-orang) unggulan. Ya, di kelas itu semua berebut posisi paling atas dan merebut hati para guru. Sungguh seperti berlomba-lomba masuk chart MTV Ampuh. Aku? Aku benar-benar tidak berminat untuk posisi itu. Aku lebih sering masuk di posisi bubbling undervideo saja. Aku bukan orang pintar. Tapi aku juga tidak mau tertindas begitu saja. Aku juga ingin bisa dikenal oleh para guru, setidaknya satu orang guru saja mungkin cukup.
Keadaan yang sering masuk di bubbling undervideo itu membuat orang tuaku khawatir. Di rapor pun nilai eksak lebih rendah dari pada bahasa. Orang tua seringkali bilang hal itu karena aku terlalu sibuk berkutat di mading sekolah dan MPK. Tapi bukan itu alasannya, aku sudah pernah bilang alasannya, aku mungkin tidak cocok di IPA. Tapi wali kelasku tidak mendukung pernyataanku itu karena di beberapa ilmu eksak nilaiku lumayan baik. Akhirnya, Musim pembuatan karya tulis di sekolah pun dimulai. Aku berusaha membuktikan perkataan itu dengan membuat karya tulis tentang sastra yang mengubah perspektif banyak orang tentang aku.
Karya Tulis dan Ayat-ayat Cinta
“Apa alasan kamu mengambil judul ini?” tanya pembimbing karya tulisku sebelum menyetujui judul aku pilih.
“Menghidupkan Cerita dalam Cerita Pendek.” Sebenarnya apa maknanya? Aku terdiam sejenak. Hal yang terlintas dibenakku hanya mengeluarkan outline karya tulis dan melihat lagi bagian-bagiannya. Aku tidak berusaha menjawab, sang pembimbing pun membiarkanku larut dalam pikiranku sendiri hingga akhirnya dia membubuhkan tanda tangannya di kartu bimbinganku. Aku tidak tahu apa beliau mengerti maksudku atau sudah menemukan jawabannya, yang jelas dia memintaku melanjutkan ke bab berikutnya.
Karya tulisku rampung dan sidangku pun dipercepat oleh tim penguji. Aku benar-benar-panik.
Pertanyaan terbesar pun terlontar dari penguji yang bertubuh mungil. “Kenapa kamu membandingkan dengan novel ini? Ini kan cerita pendek.” Sebenarnya aku juga tidak kompeten dalam hal menulis. Aku hanya senang membaca dan menulis. Tapi aku harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kutulis bukan?
“Saya mengambil beberapa contoh dari itu, Bu. Contoh pendeskripsian. Saya suka dengan pendeskripsian ala Kang Abik itu mengenai tokohnya terutama.“ belaku mengenai novel yang kubeli akhir tahun 2006 itu.
Pertanyaan lain pun bergulir. Aku diminta mendeskripsikan dan membandingkan secara langsung tokoh utama di novel itu dengan bahasaku sendiri, tentunya. Ya ampun, sesosok Fedi Nuril dan Fahri pun bergentayangan di pikiranku. Aku hampir tidak bisa mengenali perbedaannya. Sosok-sosok itu masih kabur hingga guru pengujiku mulai mendeskripsikan sesosok Fedi Nuril dengan mata berbinar-binar. Ya Tuhan, masa aku kalah sama ibu-ibu ini? Tak jarang banyak pula yang tahu Fedi Nuril itu ya Fahri. Seperti kedua guru pengujiku ini. Aku harus membacakan biografi singkat tentang sang Fedi Nuril, sang gitaris Garasi itu terlebih dahulu sebelum mendeskripsikannya dengan terbatas.
Fedi Nuril, sang gitaris Garasi itu benar-benar berhasil menjelma menjadi Fahri.
Tidak perlu banyak bukti. Aku yakin siapa pun yang menonton film ini akan sependapat. Imej itu melekat padanya. Siapa yang tak terterpa kharismanya? Siapa yang tak kagum atas talentanya di bidang akting dan musik? Mendengar perkataanku itu, kedua guruku menyarankan agar kami menonton Ayat-ayat Cinta bersama-sama dan itu terkabul. Kelas pun bagai terterpa serangan badai Fahri. Ya Tuhan, maafkan aku.
Aku benar-benar berutang terima kasih kepada seorang Fedi Nuril. Aku sangat beruntung bisa lulus sidang dengan cara yang tidak terlalu sulit. Aku pun bersyukur karya tulisku itu bisa berguna bagi adik kelasku karena diabadikan. Tapi aku tidak bisa bertanggung jawab atas badai Fahri di kelasku itu.
Jejaring Sosial dan Kakak Bimbingan
Siapa yang sangka jejaring sosial mengantarkanku lebih dekat dengan orang-orang yang kukagumi? Melalui blog, aku banyak tahu tentang Garasi dan memiliki teman-teman baru yang luar biasa menyenangkan. Lewat akun multiply-ku bertemu dengan teman-teman pecinta Garasi lainnya dan aku pun dapat info terupdate dari akun resmi milik Garasi. Menyenangkan bukan?
Awalnya, aku sangat excited mendengar bahwa ada seseorang yang akan menulis tentang Garasi. Ketertarikan itu mempertemukanku dengan seorang pembimbing yang bernama, Pipin Kurniawaty.
Kak Pinot, begitu aku memanggilnya. Aku mengenalnya melalui akun Twitterku. Awalnya aku pikir mana mau ia membalas tweetku. Aku siapa? Kenal pun tidak. Aku tak ingin SKSD atau sebagainya. Tapi, ketika aku mendapat balasan darinya, betapa ramahnya kakak yang satu ini terlebih hingga ia bersedia menjadi pembimbingku.
Kumulai dengan membaca tulisan-tulisan di blog sederhananya. Lalu apa yang terjadi? Tentu saja aku terjebak di dalamnya. Membuatku ingin menelusuri setiap bagiannya. Setiap kisah yang diuntainya luar biasa jujur. Aku tahu kejujuran adalah unsur yang sering diabaikan dalam menulis, tapi aku menemukan kejujuran itu di dalam tubuh tulisannya. Itulah mengapa aku ingin sekali mendapat bimbingannya. Mungkin aku akan belajar dari tulisannya saja, tetapi betapa baiknya ia kala bersedia menjadikan aku sebagai adik bimbingannya..
Aku tak terbiasa menulis non-fiksi, mungkin curhat colongan di blog tidak termasuk hitungan. Aku jarang sekali menuliskan opini atau cerita realita sebelumnya. Tapi ketika aku mendapati tulisan-tulisannya, aku tergerak untuk mencobanya. Bukan melebih-lebihkan, tapi memang begitu keadaanya. Aku juga suka membaca karya-karyanya yang lain. Dia pengarang hebat!
Dia hebat. Kenapa? Karena suatu ketika aku-yang-pemalas ini lagi-lagi dihadapkan kepada tugas mata kuliah yang tak begitu aku sukai. Well, harus kuakui nilaiku hampir jelek di mata kuliah ini. Dan seseorang yang aku pikir bisa membantuku adalah Kak Pinot. Tugasku saat itu adalah mewawancarai narasumber mengenai keorganisasian dan pekerjaan. Tentu saja dengan kemurahan hatinya ia mau membantuku.
Apa yang aku dapatkan atas hasil wawancara dengannya itu? Aku mendapatkan betapa bertanggung jawabnya ia dengan pekerjaannya, betapa pedulinya ia dengan lingkungan sekitarnya. Di saat orang lain mungkin sudah melupakan kisah lumpur Lapindo di negeri ini, tapi ia tetap peduli dan tergerak untuk membantu anak-anak yang terkena imbas kapitalis pengusaha negeri ini. Kau tahu, Kak? Aku menyelipkan kisah itu ketika menulis surat untuk presiden.
Kembali ke tugas itu, aku beruntung memiliki narasumber hebat seperti ia. Aku mendapat nilai yang aku rasa mampu untuk menutupi nilai UTSku sebelumnya dan itu terbukti dengan meledaknya nilai IPku. Itu tak seberapa dengan nilai hidup yang aku dapatkan darinya. Suatu hari, aku mengingat percakapan kami mengenai menulis. Ia mengatakan bahwa ia bukan ingin menjadi penulis yang terkenal, tapi dia hanya ingin kelak memiliki kisah untuk diceritakan kepada anak-cucunya dan itu sangat mengharukanku. Betapa tulusnya dia.
Aku mungkin tak mengenalnya terlalu dekat, tapi aku mengaguminya. Bukan karena ia akrab dengan seorang Fedi Nuril dan anggota Garasi lainnya, tapi karena nilai-nilai yang ia berikan secara tersirat. Itu cukup membukakan mataku. Maka aku menyebutnya kakak bimbinganku.. Terima kasih telah menginspirasiku.
Dan lagi-lagi, aku mengucapkan terima kasih kepada Fedi Nuril karena telah membuatku mengenalnya..
Komentar
Posting Komentar